You are currently browsing the monthly archive for May, 2009.
“Nada nada yang minor. Lagu perselingkuhan. Atas nama pasar semuanya begitu klise.. Elegi patah hati. Ode pengusir rindu. Atas nama pasar semuanya begitu banal.. Lagu cinta melulu. Kita memang benar benar melayu. Suka mendayu dayu. Apa memang karena kuping melayu. Suka yang sendu sendu…”
Bait tersebut merupakan cuplikan lirik lagu “Lagu Cinta Melulu”. Jika kita amati, lirik pada lagu tersebut cukup menggelitik karena Efek Rumah Kaca, band indie yang mencipta dan mempopulerkan lagu tersebut, cukup pintar menyinggung musik Indonesia yang saat ini sudah saatnya menuai kritik. Mayor label saat ini sedang getol- getolnya mengorbitkan band- band beraliran pop rock atau bahkan pop melayu yang memiliki format tampilan, formasi, dan cara bermusik yang hampir sama. Tidak ada ciri khusus yang dapat membedakan band satu dengan band yang lain. Band- band baru yang banyak bermunculan saat ini rata- rata mengaku mengusung aliran pop rock. Padahal jika kita amati kadang hanya gaya rambut, celana, dan cara berpakaian mereka saja yang menunjukkan sifat pop rock mereka. Selebihnya, dari segi musikalitas mereka hanya memainkan nada- nada pop minor yang sendu dan bertemakan patah hati, perselingkuhan, dan keputusasaan seseorang terhadap cinta. Banyak diantaranya bahkan dinyanyikan dengan cengkok vokal melayu yang dibumbui dengan distorsi gitar listrik agar tampak lebih nge- rock. Apakah ini benar- benar cerminan kreatifitas musisi Indonesia saat ini? Atau mereka hanya mementingkan nilai komersil daripada nilai rasa dalam mencipta lagu? Industri musik kita saat ini bisa dibilang mengalami kemunduran. Dulu musik merupakan wadah dan sarana para musisi band untuk menelurkan karya- karnyanya yang berkiblat pada kreativitas dan kepuasan sang Penulis lagu. Musik dinilai harus memiliki rasa, yaitu bagaimana sang Penulis mendapat kepuasan dalam membuat lagu dan lebih lagi bagaimana lagu tersebut memiliki bobot yang dapat membuat penikmat musik tidak jenuh dan ingin terus mendengarnya. Namun saat ini yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak musisi yang berubah kiblat menjadi penulis lagu yang hanya berorientasi pada rating atau selera pasar. Musik yang seharusnya independen dan bebas berekspresi kini malah seperti sinetron yang memiliki sutradara untuk mengatur gerak- gerik dan arah mana yang harus dituju.Perubahan cara pandang ini kemungkinan disebabkan karena munculnya satu band yang mengaku mengusung aliran pop rock—yang padahal pada kenyataannya musik mereka bersifat kemelayu- melayuan dan bertemakan percintaan miris— yang lagu- lagunya mendapat rating tinggi di pasaran, dan kemudian band tersebut menjadi kiblat baru atas industri munculnya band- band baru. Dampak akhirnya pun dapat kita tebak; industri rekaman dan produser akhirnya mengikuti selera pasar yang pada akhirnya akan terus- terusan mengorbitkan band- band baru dengan tema yang sama. Kreatifitas musisi band pun terkotaki dengan adanya fenomena tersebut. Ada sebuah band jebolan ajang pencarian band yang terpaksa mengubah haluannya menjadi pop sendu ala orang patah hati karena permintaan (atau mungkin paksaan) dari pihak label mayor, padahal sebelumnya mereka memainkan lagu pop rancak dan bersemangat. Saat ini pun label mayor dengan hak absolutnya tak segan- segan menolak mengorbitkan band yang mencipta dengan rasa. Mereka menganggap bahwa lagu- lagu dengan musik dan lirik yang berbobot terlalu berat untuk pasar Indonesia dibandingkan lagu- lagu dengan tema keputusasaan dan perselingkuhan. Hal ini menyebabkan band- band yang memang berniat menjadi band terkenal akhirnya terpaksa merubah haluan demi tercapainya cita- cita, meskipun harus mencipta lagu tanpa rasa tentunya. Musik yang itu- itu saja lama kelamaan membuat para pendengar jenuh. Banyak penikmat musik yang saat ini lebih suka mendengarkan musik dari band- band luar negeri. Musik luar negeri dengan kemasan yang lebih elegan, berkarakter, dan lebih memiliki “rasa” dirasa berbeda dengan musik dalam negeri dapat menjadi pelarian bagi mereka- mereka yang jenuh dengan musik termehek- mehek ala musisi dalam negeri. Haruskah penikmat musik Indonesia kehilangan rasa cintanya pada musik dalam negeri karena hilangnya nilai rasa pada setiap nada yang tercipta dari band- band dalam negeri yang termakan racun komersial? Bait lagu “Lagu Cinta Melulu” tersebut di atas seharunya dapat menjadi cermin bagi pada pelaku industri musik, terutama bagi para produser. Pada kenyataannya tidak hanya satu dua orang saja yang jenuh pada musikalitas negeri saat ini dan itu sekiranya dapat menjadi cambuk agar mereka lebih memfiltrasi band- band agar tidak terjadi stereotype (kesamaan yang identik) dan agar lebih mempertimbangkan band- band yang lebih memiliki “rasa” daripada terus menerus mempertimbangkan rating pasar yang hanya akan menghambat kreativitas musisi dan menjenuhkan telinga penikmat musik. Masih banyak warna musik yang sedang berkembang dan menanti para produser untuk memetik buah kreativitas mereka demi menyelamatkan nasib dunia musik Indonesia, misalnya warna musik pop yang dipadukan dengan soul, R&B, jazz, funk, dan lain sebagainya. Semoga angin segar cepat berhembus di industri musik Indonesia saat ini.
*note : sebenarnya ini tugas essay B.Indonesia saya.

comment(s)